Peserta Presentasikan Sepuluh Karya Terbaik Lomba Maskot dan Tagline

638dee38-e455-477e-8ec0-c89f6d62725b

Lomba Maskot dan Tagline Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) Jombang Tahun 2018,

 

kpu-jombangkab.go.id- Setelah diumumkan melalui website resmi KPU terhadap 10 karya yang dianggap juri terbaik untuk Lomba Maskot dan Tagline Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) Jombang Tahun 2018, para peserta yang karyanya terpilih harus mempresentasikan di depan Dewan Juri pada Sabtu (30/9). Peserta Lomba Maskot mempresentasikan karyanya pada pukul 14.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Selanjutnya, giliran peserta Lomba Tagline hingga selesai penjurian, di ruang audio visual Rumah Pintar Pemilu – Gubuk Sosialisasi Demokrasi Untuk Rakyat (RPP Gusdur).

Arif Budiman, salah satu Juri, menjelaskan bahwa sesi presentasi karya adalah bagian penjurian yang memberikan nilai plus terhadap karya peserta. Dari sesi inilah, Juri bisa mengetahui jelas apa pesan yang disampaikan peserta melalui karyanya sekaligus untuk mengetahui bahwa karya tersebut benar-benar karya peserta sendiri.

“Saya sudah menyiapkan tokoh Cak Besut dan Ning Rusmini sekaligus pengaplikasian dalam berbagai media yaitu misalnya pada kaos, mug, dan suvenir lainnya. Saya memilih tokoh ini karena Besut adalah tokoh dari Kabupaten Jombang yang sudah tersohor,” kata A. Fatoni, seorang peserta Lomba Maskot.

Wiji Mulyo Maradianto atau biasa disapa Dian, seorang Seniman dan Pemerhati Sejarah di Jombang, menegaskan kepada Peserta Lomba Maskot bahwa mereka harus benar-benar mengetahui tentang tokoh yang dibuat sebagai maskot. Mempelajari sejarahnya sangat penting sehingga pesan (dalam hal ini tentang ajakan mencoblos atau menggunakan hak suara) sampai kepada masyarakat hanya dengan melihat sosok maskot itu.

“Saya masih melihat, para peserta hanya tahu sekilas tapi kurang tepat. Misalnya pemilihan Kebo Kicak sebagai maskot, digambarkan dengan hewan kerbau ditambah pernik sedikit soal pemilu. Padahal Kebo Kicak itu adalah julukan dari Joko Tulus yaitu seorang cantrik dari Ki Ageng Soponyono dari Padepokan Pancuran Cukir di zaman Kerajaan Majapahit, yang karakternya temperamental,” papar Dian yang seorang seniman dan pemerhati sejarah.

Saat presentasi Lomba Tagline, Sutono, Juri yang juga Ketua Persatuan Wartawan Indonesia di Jombang, mengatakan bahwa para peserta masih banyak yang menggunakan kalimat terlalu panjang, dan kurang komunikatif. “Bagaimana kalimat dalam tagline itu lugas mengandung ajakan memilih tapi juga mudah ‘ditangkap’ telinga,” ujar Sutono.

Setelah semua peserta diberikan kesempatan selama kurang lebih lima menit dan diberikan tanggapan oleh masing-masing juri, lalu dilakukan penilaian saat itu juga. Para juri Lomba Maskot dan Tagline Pilbup Jombang 2018 antara lain : Arief Fajar Budiman, Drs Sutono, Wiji Mulyo Maradianto, Nanda Sukmana, dan Nasrullah. Mereka datang dari kalangan profesional yaitu wartawan senior, guru Bahasa Indonesia, Seniman dan Pemerhati Sejarah, serta Ahli Desain Komunikasi Visual.

Pemenang Lomba Maskot diraih oleh A. Fatoni dengan karya tema Besut – Rusmini, M. Qowiyuddin dengan karya tema Besut Kotak Suara, dan Deninta Dwi dengan karya tema Besut. Juara Lomba Tagline berhasil disabet oleh Fandi dengan slogan “Tuku Beras Nang Pasar Legi, Ayo Cerdas Berdemokrasi,” Lutfi dengan slogan “Berikan Suara Tanpa Imbalan,” dan Dimas A dengan slogan “Ojo Golput Tambah Mundak Luput.” (dyta)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *